A Day In The Life

Bangun tidur dan aku membaca berita hari itu, tentang seorang laki-laki yang tidak pernah memiliki kejaiban dalam hidupnya, aku melihat seketsa wajahnya, dia menembak seorang pengusaha di dalam mobil, tepat ditengah-tengah jidat. Kalimat terakhir dari berita itu berbunyi : diapit gerak industri dia masih berkeliaran disekitar kita.

Siang harinya aku melihat tubuh pengusaha itu di ruang otopsi, setelah sekian lama, ternyata tidak ada orang yang merasa memiliki dirinya, sangat kaya atau biasa-biasa saja sudah pasti mayat itu akan dikubur tanpa nama pada nisannya nanti.

Hari tidak berhenti, aku pulang dan laki-laki dalam sketsa berita pagi itu duduk di ruang tengah rumahku, kabel telpon sudah dia putus. Seperti sebuah kunjungan kerabat, seorang perempuan muncul dari dapur “selamat siang tuan” sapa perempuan itu “anda juga mau kopi?...atau teh mungkin ”, dia tersenyum, seperti kebanyakan perempuan yang bahagia sekarang ini. Lalu dia mendekat “sepertinya kita perlu belanja, sayang”, dia gerayangi kantong celanaku lalu mengumpat “buruh sialan,sudah tahu hidup susah masih bekerja dengan upah harian”, dia tunjukan uang jarahannya di depan mataku “ini..kamu cuma punya uang segini”. Aku tetap diam sampai dia mendorongku untuk duduk dimeja yang sama dengan laki-laki itu.

“Pacarku bertanya pada tukang koran diujung gang”kata laki-laki itu, “dan kamu pelanggan A Day In The Life, selamat, anda pembeli pertama hari ini” dia meyeringai,mengerikan, dan melanjutakan lagi “kamu tahu, judul koran jelek ini diambil dari lagu milik beatles, semunya tentang orang yang jauh dari keberuntungan” dia tersenyum, “aku tidak harus membuktikan itu,anda tahu maksudku”.

Perempuan tadi keluar dari kamar mandi “ayo sayang, berikan kunci mobilmu,aku akan belanja hari ini” mengusap pipiku dengan telapak tangannya yang dingin,dan sekali lagi mengerayangi kantong celanaku,“Jangan terlalu menggoda, Laila”, laki-laki itu memandangnya serius, perempuan bernama Laila itu berbisik di telingaku ”aku suka laki-laki garang” dan dia melangkah keluar sambil tertawa riang.

“Kamu merokok?” laki-laki tadi menghilangkan langkah perempuannya, dia menaruh pistol diatas meja, mengambil sebungkus dari jaket dan melemparnya kepadaku “Ambilah, agar kamu lebih santai”. Aku mengikuti apa yang dia katakan “Benar-benar pekerja keras” katanya, “Kamu perokok berat ternyata, aku dulu seperti kamu, jika usiamu lebih muda dari aku, persis seperti itulah aku pada awalnya”, dia juga merokok, lalu melanjutkan”Bekerja siang dan malam, berganti-ganti pekerjaan, sangat bangga, lelah itu menyenangkan”, dia tertawa, ”…dan kamu akan sampai diamana hidupmu sangat membosankan, begitu kamu mencintai perempuan, begitu otakmu akan menjadi comberan“, dia tertawa, “Apa?..kamu ingin berkata sesuatu?..katakan!!”, aku telan ludah sebanyak-banyaknya dan aku katakan “Aku juga mencintai seorang perempuan,tapi aku tidak merasa otakku…”, tiba-tiba dia menyipitkan matanya dan aku menarik kata-kataku “Maaf, saya kira saya boleh berkata demikian”. Dia tersenyum “Laki-laki yang jujur, tapi tolol, aku senang mendengarnya, katakan selebihnya…”, aku tidak mau melanjutkan, mengeleng dan terus mengeleng.

Dia kecewa “Baiklah, aku mungkin terlalu menganggap semua orang sama, tapi kamu akan tahu katika kamu menjalani hidupmu lima atau enam tahun lagi, dimana kamu tidak lagi terbuai oleh kata-kata cinta, ketika kamu sudah tidak mungkin menyimpan cinta dari perempuan yang kamu cintai itu, karena dia akhirnya lebih mencintai ini”, dia menunjuk pistolnya “Dor..dor…dan dia baru mengerti maksud kita”. Laki-laki itu seketika berubah keji, dia memperhatikan pistol ditangannya “Hah..lupakan semua itu, senjata ini terlalu cantik” lalu menaruhnya dimeja “Sekarang ceritakan dimana kamu bekerja?”, aku tanpa sengaja menelan ludah lagi, dan mencoba berkata “Saya bekerja tidak beraturan, pagi hari menjadi tukang sapu di jalan protokol,siang menjadi cleaning service di rumah sakit dan sore menjadi asisten seorang penulis”, dia tersenyum, aku diam memperhatikan,”..Siapa penulis itu, apa dia kaya?”, aku tak lagi bisa berfikir kecuali tentang sebuah kesalahan, apakah dia akan merampoknya “Tidak, dia penulis bisa, hanya karena cacad maka dia butuh seorang asisten”, laki-laki itu berkata “Bodoh, pembantu yang setia pada majikannya, kecuali anjing pasti orang semacam kamu saja yang melakukannya, kita tunggu Laila, setelah makan kita kunjungi tuanmu yang penulis itu,aku akan tunjukan padamu,diantara kalian, siapa yang sebenarnya anjing”.

Hari mulai gelap, kami kelaparan menunggu Laila, laki-laki itu memakan keju tanpa roti dari lemari makan,membagi padaku sedikit sebagai bentuk keperdulian yang aneh, sore sudah benar-benar datang, dia melarangku untuk menyalakan lampu, lebih dari sekedar keamanan tapi termasuk untuk menutupi wajahnya yang gelisah karena Laila tak kunjung muncul. “Bangsat perempuan itu,kemana saja dia” berkali-kali mengumpat, lalu mulai mengacau, mendekati aku dan menyodokkan pelipis pistolnya dikeningku “Kalau ada apa-apa dengan dia, bersiaplah mampus anak muda…apapun yang terjadi..akau tidak mau dia celaka”. Laki-laki itu seperti bersunguh-sungguh dengan ucapannya, dia dengan perempuan bernama Laila tadi, aku bertanya, tapi dia sangat liar, jelas sesat karena alasan untuk menyalahkan yang lainnya.

Di dalam ruangan yang gelap itu, nyamuk mulai beraksi ditelinga, dia merancu “Binatang sialan, rumahmu benar-benar kotor”, aku tetap diam,tapi tidak bisa bertahan lama, “Biasanya mereka pergi jika lampu dinyalakan”, dia membantah “Omong kosong” dan aku terus mencoba ”Aku pernah melihatnya di saluran televisi,mereka menggunakan sensor panas dan..m..mm..mungkin Laila juga tidak ragu jika lampu dinyalakan” dia berdiri “Iya kamu benar, Laila bisa ragu jika melihat rumah ini gelap, dimana tombol lampunya?”. Aku menyuruhnya berjalan mendekati almari disalah satu sisi, “Dibagian sebelah kanan“ kataku.

Tak lama kemudian ruangan menjadi terang, aku melihat wajahnya yang berminyak,rambutnya yang kusut dan dia tampak lebih kurus dari ketika aku melihatnya di balik meja tadi,aku coba mengukur seberapa kuat tubuh itu, tapi tetap dia memiliki keliaran dan profesionalisme seorang pembunuh, tidak mungkin, kataku dalam hati.

Tak lama kemudian dia memangil “Hey…milik siapa semua piringan hitam ini” aku tidak percaya, dia belum melihat barang itu, apakah begitu datang dia hanya duduk dan bergerak antara dapur dan ruang tengah saja, “Milikku..aku mengoleksi barang itu”, dia tersenyum “Heh..orang miskin yang aneh” dan dia berubah “…atau kamu sebenarnya tidak miskin” menatapku tajam dan beralih pada isi almari itu,”Kamu mengoleksi buku-buku juga... kita lihat, apa kamu bukan orang bisa”, aku sedikit susah berfikir, dia orang brutal yang melakukan penilaian pada seseorang,tak lama dia bersuara lagi ”Ya...aku dulu tidak punya buku-buku semacam ini, hidupku habis untuk bersenang-senang, tapi siapa yang bisa mengerti kecuali hanya pistol ini, dan peluru, ya..peluru yang kemudian aku berikan pada semua orang”, dia kembali melirik kerahku, tersenyum dengan sadisnya “Sekarang jelas kamu tidak sama dengan aku…kamu tidak berarti lagi bagiku…”aku merasakan titik akhir dan bertanya, apakah aku selama beberapa waktu yang lalu cukup berarti baginya, kenapa sedemikian singkat, bisakah ada sesuatu yang dimengeti.

Sebentar kemudian aku menyerah pada alunan gitar A Day In The Life “Ah..ini lagumu anak muda” katanya, aku duduk disofa, “Kamu tahu yang paling menarik dari lagu ini” dia tetawa “kebodohan semacam kamu”. Dia bernyayi tentang inspirasi, dan jujur “Seharusnya aku mengembangkan lagu ini menjadi kekacauan yang metodis, berpesan melaui kematian orang-orang tolol semacam kamu” dia menendang wajahku, “Aku butuh pisau” dia berjalan santai menuju dapur, terdengar suara tembakan beberapa kali, aku berlari menghampiri, aku raih saklar lampu, Laila menodongkan pistol kearahku “mundur !!”. Sebentar aku tersentak, lalu berlari keluar menjauhi rumah, meminta pertolongan tetangga untuk menelpon polisi. Laila dan lelaki itu hilang, tak ada darah di ruang dapur,tak ada bekas peluru ditemboknya. A Day In The Life mengalun untuk kedua kalinya, korannya tergeletak diatas meja, aku diam di atas sofa memandangi pistol ditanganku seorang diri……

Jam Analitik

Mirat rebah diatas kasur, dibelakangnya terdengar suara pensil mengores kertas linen kualitas biasa, “aku melihat banyak kupu-kupu, dan yang paling besar berwarna hitam, dia terbang paling rendah, paling dekat dengan bunga-bunga, kupu-kupu itu cantik, sangat cantik, warnanya hitam” dia diam, dibelakangnya, tak ada suara, lalu dia melanjutkan “apakah hitam itu jelek?” dia kembali diam “tapi aku pernah baca tentang kualitas ras, o…...aku sangat marah ketika membaca tentang semua itu, kulit hitam adalah kaum budak, dijual belikan seperti binatang” dia mengeluh, ”ya Tuhan…padahal kupu-kupu hitam itu teramat cantik”, dibelakangnya terdengar suara gumam. Mirat menutup matanya dalam-dalam “dia tidak lebih buruk dari” dia kembali diam “aku merasakan itu, dan aku….” kali itu dia diam cukup lama “apakah anda yakin orang berkulit hitam itu berpikiran pendek..” ada suara dibelakangnya “maksud anda?”, Mirat membuka matanya “mereka memperkaya diri dengan berbuat kejahatan, menjual obat-obatan, dan bahkan membajak dan menyelundupkan, di Inggris, anda tahu?..mereka kebanyakan imigran gelap…penyusup yang dianggap maling”, suara dibelakangnya kembali terdengar “ya..saya tahu itu, bagaimana dengan kupu-kupu hitam tadi, anda tidak ingin melanjutkannya?”

Mirat menutup lagi matanya “tapi kupu-kupu itu tetap yang terbesar”, pensil mengores kertas lalu terdengar suara“seolah ingin mengambil semua perhatian, sangat percaya bahwa dia yang tercantik, satu-satunya..”Mirat diam lalu bertanya “apakah anda percaya istilah untuk membesarkan hati, bahwa sebenarnya penggunanya tidak tega untuk mengatakan kotor sekali atau jelek sekali“, suara dibelakangnya merespon “ya, mungkin saja, itu baik untuk bersosial”, Mirat mengeluh “kenapa bisa semacam itu?”, dibelakngnya melanjutkan “itu nilai percakapan, bahwa sebenarnya kita juga harus menjaga rasa dalam kalimat, kejujuran selalu harus dipikirkan, kita sebenarnya sudah sangat keras dan otoriter ketika mengunakan bahasa, lawan bicara_berada dalam jebakan kesombongan dirinya”, Mirat membuka mata “Apakah kita boleh marah ketika sampai pada kejujurannya?”, suara nafas dibelakangnya “marah atau menerima adalah sama, dia sudah menjebak pada dua sisi” Mirat memotong “lalu apa yang harus dilakukan?”, dibelakangnya berkata “tidak ada, karena pembicara sudah punya kesimpulan atas diri kita, apakah kupu-kupu hitam itu eksotis menurut anda” Mirat diam cukup lama “aku tidak tahu, bagaimana menurut anda?”,suara dibelakangnya berkata “ saya belum menyimpulkannya?” Mirat mengeleng, lalu berkata ”apakah kebesaran kupu itu bisa merubah kesimpulan?”,suara dibelangnya menyambut “anda ingin itu?, saya kira dia mengetahui kupu-kupu itu tidak menarik hatinya, tapi dia merasa pantas bersosial, apakah anda ingin dia mengatakan, kupu hitam itu sangat jelek, berwarna hitam seperti bangsa budak?”.

***

Lima minggu sebelum hari itu, orang dibelakang mirat itu memperkenalkan diri sebagai Nara, “saya teman Mirat” dan seorang laki-laki waktu itu menyatakan dirinya sebagai Anwar “saya juga temannya Mirat”. Mereka bertemu disebuah galleri seni dia pinggir Sunset Road, di seputaran Kuta Gallery yang termasyur itu, satu patung timor dari batu andesit menatap mereka yang duduk di bangku tonggak kayu. Anwar bertanya “Lalu bagaimana perkembangannya?”, Nara mengambil rokok “belum, dia masih harus melewati terapi dalam beberapa tahap”, Anwar tersenyum “Apa dia akan sembuh?”, Nara menyalakan rokoknya “pada dasaranya bukan masalah sembuh atau tidak, tapi menolong dia untuk menjadi normal, hanya mengenang masalah-masalah yang dia lupakan pada masa kecilnya”, Anwar merokok, menawari minuman pada Nara dan kemudian dia melanjutkan “perempuan dari kalangan menengah memang penuh masalah, aku terkadang berfikir itu keseimbangan untuk kehidupan mereka yang mewah, mental yang cacat dengan tampilan yang mewah_sama saja”, Nara mengeleng “tidak semuanya seperti itu, ada banyak juga yang mendapat kebebasan cukup, memiliki pengalaman yang cukup dan bertemu dengan kegagalan yang mendewasakan” Anwar memandangi Nara “apakah kegegalan itu penting?”, Nara tertawa “tentu saja, itu bukti bahwa hidup kita berjalan normal, sama seperti dalam permainan, perubahan rasa yang menyenangkan” Anwar sejenak berfikir lalu dia berkata “apakah itu berpengaruh”, Nara tertawa “bisa saja, tapi tidak jika kita tidak membahas itu, aku delapan jam sehari untuk bertemu dengan orang-orang yang menderita, kenapa tidak kamu tunjukan saja barang seni mana yang pantas untukku”, Anwar tersenyum “ya, tapi aku baru lima kali bertemu dengan cerita semacam itu”.

Mereka beralih pada banyak pembicaraan menjelang matahari tenggelam, dan Anwar mengajak Nara melihat-lihat ruang pameran “ruangan ini akan bagus pada malam hari, kamu bisa melihat patung-patung kuno di bawah lampu artifisial, dan satu lagi” lalu Anwar berjalan ke sebuah ruangan kecil di sudut ruangan itu, sebentar kemudian mengalun sebuah symphoni dengan resonansi sempurna diruangan itu, Anwar keluar dengan tersenyum, lalu Nara menyambutnya dengan “Revolutionary” dan Anwar “Frederic Chopin, untuk perubahan”, Nara tersenyum “perubahan yang untukmu sebenarnya terjadi pada yang lainnya?”, Anwar tertawa meremehkan “ya... merasa dewasa dengan sempurna, apa mereka masih seperti itu ketika memenuhi ruang paraktekmu” Nara mengangkat bahunya “hampir semuanya”, Anwar tampak kecewa “ah..pasti meyebalkan sekali, semacam kambing mengembik saja mereka itu, seleranya cukup rumput rendah saja”.

Anwar dan Nara melanjutkan perjalanan melewati satu ikon budaya ke ikon budaya yang lainnya, patung-patung seni yang mewakii sosio kultur manusia, dari masa lalu yang jujur berubah menjadi masa kini yang bernilai mahal, unik,angker,aneh,membingungkan, istilah yang sebenarnya menunjukan ketikmampuan untuk bertemu lagi dengan kejujuran itu sendiri. Anwar berkata “keanehan manusia dalam moralitas, merendahkan nilai masa lalu dan menyuguhkan jalan baru yang akan diendahkan juga dimasa depan”. Nara mengerutkan dahinya “apa ini masih tentang kambing ?”

***

Jam berikutnya “Pernahkan anda melihat orang menghadirikan orang lain dalam pembicaraan” begitu Mirat berkata, “dan itu berlangsung terus menerus menjadi sesuatu yang sangat romantis”, Nara menyambutnya “kasihan sekali, bahkan manusia semacam itu tidak mampu menghadirkan hidupnya sendiri, siapa dia sebenarnya, sampah?” dan Mirat berkata “apa itu kelainan”, Nara tertawa “apa anda mengenali semua itu?”dan Nara dengan sengaja menyadarkan Mirat yang sering menggunakannya untuk mendekatkan hubungan mereka.

Mirat berusaha, dalam analogi untuk mendewikan dirinya, tapi Nara melihat kekurangan yang parah pada menguasaan seni percakapan, Mirat yang jelek, sepenuhnya sampah, tidak ada artinya bagi perkembangan berikutnya dan Nara berkata “sebenarnya kupu besar itu ingin menarik perhatian siapa, bunga-bunga? atau kupu-kupu yang lainnya?, atau kedua-duanya?, Mirat berfikir “aku tidak tahu”,Mirat diam dalam keragu-raguan, Nara menulis “kedua-duanya”, lalu dia berkata “apakah anda punya kenangan lain tentang keluarga anda”, Mirat menjawab “apa itu penting?”, Nara melanjutkan “Bagaimana jika kupu besar itu ternyata sangat kurang perhatian”, Mirat berubah marah “anda mengatakan saya kurang perhatian?”, Nara menghela nafas “tidak, saya mengatakan tentang kupu itu”, Mirat diam, kemudian dia berkata “dia cantik dari semua perempuan, maksudku kupu-kupu yang lainnya, tapi dia selalu disalahkan, dia bahkan lebih cerdas dari kupu yang lainnya, tapi dia tidak memiliki hak untuk memilih, pada semua hal aku memang tidak boleh memilih”, Nara membuat garis lurus diatas kertas linennya “bagus, anda baru saja melakukan itu” Mirat berfikir dan dia berkata “maksudku kupu-kupu itu” Nara serius “ya, saya tahu” dan Mirat melanjutkan “dia harus menyenangkan hati semuanya, termasuk orang tuaku,dia tidak mungkin mengecewakan mereka”, Nara mengela nafas lagi, perempuan itu tampak sangat tersiksa, padahal dia berusaha sempurna dan Nara berkata “apakah anda yakin semua itu tidak terlalu aneh”, Mirat hanya diam, Nara menyerang ”apakah mereka memang menganjurkan untuk tampil seperti itu?”, Mirat mengeleng dan Nara berkata “saya kira semua orang akan sampai pada titik dimana kupu besar itu terlihat sedang melakukan sesuatu, dia berusaha lepas dari kebiasaan, dia dalam sebuah keterasingan yang dia perlukan, anda pernah dengar cerita seorang anak dengan hati orang tuanya, menjadi mempesona atau sangat kurang adalah sama, anak itu mencari pertentangan dengan orang tuanya, kupu-kupu anda itu dengan orang tua anda sendiri”.

***

Setelah jam analitik hari itu selesai, Nara menemui Anwar, laki-laki itu duduk malas di balkon kamarnya, “apa yang kamu kerjakan sehari ini, duduk?” Nara memandanginya dengan sengit “Ya..kenapa?, bagaimana perkembangan pasienmu?”, Nara berwajah kecewa “kamu tahu, dia mencintaimu”, Anwar tertawa “ya..mencintai semacam anak bayi yang baru mengenali pamannya,berlari dan mencari perhatian untuk kemudian menagis jika didekati?”,Nara tidak tersenyum, “bagaimana jika dia mencintaimu?”, Anwar tertawa “tidak mungkin, kamu terbalik, aku yang seharusnya mencintai dia, bukankah cerita sintingnya semacam itu”. Nara masih kecewa “dia memerlukan kamu”, Anwar menatap Nara “kamu tahu Nara, dia bukan kupu-kupu seperti apa yang dia bayangkan, dia singa betina yang kejam, buas dan liar, dia tidak pandang memakan sesamanya, aku juga tidak yakin kamu bisa menyembuhkannya”, Nara menganguk malas “ya, aku merasakan naluri liarnya, dia memang tidak tumbuh dengan tata nilai yang sama dengan kita, tidak punya hati, setelah dewasa dia harus membunuh induknya sendiri”, Anwar menghela nafas “berarti sia-sia”, Nara duduk disamping Anwar “dia tidak mungkin berani, dia jago bersembunyi, pada banyak hal, mungkin dia akan membunuh dirinya sendiri atau menyiksa hati semua orang yang melayaninya”, Anwar memeluk Nara “kamu menutup kasusnya, Nara?”, Nara tersenyum “ya..aku tidak ingin dia menyiksamu”, Anwar tertawa “kamu baik sekali”, Nara balas memeluk Anwar erat-erat, dan Anwar berkata “kamu sedang jatuh cinta Nara?”, Nara memandangi wajah Anwar “apa aku tampak sedang jatuh cinta?”.

***

Mirat mengahiri jam analitik hari itu, dia keluar dengan membawa pesan bahwa dia harus melanjutkan proses itu minggu depan, tapi dia juga berfikir bagaimana jika dia tidak melanjutkannya, mencari Anwar dan menikah dengannya.

Hidup Yang Pendek

“Ini tentang kreatifitas” katanya padaku, lalu dia menaruh rokoknya diatas asbak, “Luar biasa”, setelah dia berkata seperti itu aku serasa terbang keatas awan, hilang semua yang aku khawatirkan, ketika itu aku menyodorkan satu tulisan tentang seorang teman “yang mengajari kamu tentang cinta” kata Nara, dan aku menaruhnya di meja redaksi, “ini bukan artikel” kata sang redaktur “ini cerita fiksi” katanya kemudian.

Di luar udara sangat panas dan kopi yang aku minum pada jam sepuluh pagi tidak banyak berarti. Terkenang ibuku yang selalu menyesal karena aku tak pernah berburu foto untuk mendapatkan uang “Kapan kamu akan sukses kalau setiap hari bangun siang semacam ini”katanya, dan bapakku yang sangat disiplin, dia lebih berkata “kenapa kamu mengambil masa berproses selama ini“, sambil mengelus kepalaku dengan sedihnya. ”apa aku sudah tua?“ kataku untuk sentuhan tangan diatas kepalaku itu, “belum,tapi kamu kehilangan banyak semangat “ kata Nara. Ketika peluh belum juga kering dia juga berkata”Aku ingin melihat semangatmu esok hari”, dan semua orang, aku adalah pemalas.

Dua hari kemudian aku datang disebuah ruangan, hujan turun membasahi segala yang terbuka diluar sana “karena hujan kamu datang jam sebelas”dia menaruh tumpukan draf diatas meja, “aku hanya punya waktu setengah jam dan aku harus segera makan siang” dia seorang yang benar-benar pandai dengan waktu, setengah jam mrnjadi waktu yang sangat efisien, aku bangga, sakit hati dan lega, dia tersenyum meninggalkan ruangan, diikuti sekertarisnya yang cantik, mengenakan celana warna putih, dengan setelan baju garis-garis,melirikku dan memberikan alamat dan nomor telpon pribadinya, seolah dia terselip diantara waktu di tempat itu. “Apa kamu berhasil?”tanya Nara dan sekarang garis hitam di bawah matanya membuat aku tak berselera untuk mengerayangi dia lagi, “perempuan pemabuk” kata dia sendiri dalam tari-tarian anehnya,”Setubuhi aku sayang” katanya merayu dan aku tersenyum, tertidur untuk bangun lebih baik dari biasanya.

Malam berikutnya sekertaris itu menarikku, menyentuh dengan kuatnya hingga aku merasa ngilu, lalu dia seperti angin, berhembus diselilingku, tertawa menghancurkan “kapan lagi kamu kesini?”katanya, dan Nara menyambutku “selamat malam sayang kamu tampak ceria” aku merubah wajahku.

Hari berikutnya aku tak pergi, siang tidur sepanjang hari, rambutku berubah kusut, aku mengalami tekanan darah rendah yang parah, bau keringat dimana-mana, Nara mabuk dan overdosis di lantai, aku berdoa agar dia tak bertemu dengan aku di alam kamatian nanti, “sebuah bencana” kata ibuku,“tinggalkan dia” kata bapakku sambil mengusap kepalaku dengan sedihnya.

Sekertaris itu tak lagi mengenali aku, dia tampak puas bercumbu, tentu saja dengan dia yang sangat pandai dengan waktu, aku menunggu di sofa selama jam makan siang dan mereka di depanku, berbatas tembok kayu, otakku sudah rusak,dia katakan “kreatifitasmu pantas dihargai lebih, kami akan mencetaknya dan kita tour promo setelah ini”.

Aku tersenyum dan puluhan polisi datang ke rumah, mereka memeriksa bangkai Nara yang membusuk di lantai, aku ditahan setelah ayah Nara memukul wajahku berkali-kali, ada darah, banyak darah, aku berlumuran darah sambil berfikir tentang perempuan pecandu pinggir jalan, berhubungan dengan sembarang lelaki dan sama sekali tak mengerti kesehatan, mengambilnya, mengajari dia cara hidup yang benar, tapi minuman dan obat-obatan tak pernah membuatnya bosan, dia menciptakan kematiannya sendiri. Aku tak bisa melihat luka-lukaku sampai polisi medik berkata “ada beberapa potongan kayu kecil di dalam luka ini”, aku mengangguk dan merintih saat tangan kasarnya menarik benang di luka itu.

Kursi pengadilan,bersih tanpa kutu, mahal harganya, aku dituntut peculikan dan pembunuhan, harus dipenjara dan harus membayar. Diluar sana, namaku menderu seiring fiksi yang mereka cetak dalam edisi khusus,lengkap dengan biodata kriminal, “dia menulis kisah nyata, dia memang psikopat” begitu kata koran yang aku baca dari tangan sipir homoseksual yang mengira aku membenci perempuan, “kamu harus keluar”kata bapakku dan dia menghabiskan sisa tabungan hari tuanya untuk mengambil aku dari penampungan tepi neraka itu.

Rumah dan segala kemewahan adalah hasil dari fiksi yang beredar, tapi ibuku tak mau menemui aku, segalanya menjadi hambar hingga aku kembali membaca tentang dia yang mengajari aku cinta, berkorban dan berjuang, memberikan yang terbaik, berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan, aku menulis fiksi-fiksi, bukan yang terbaik, tapi semua orang tahu, namaku sudah jadi yang terbaik.

Hidup memang pendek…jalan menuju kantor penerbitan pada siang yang panas, aku gagal menyebaranginya …sebilah pisau mengujam…aku mencium nafasnya, ayah Nara tersenyum dengan keji…

Lima Menit dari Leisya

BMW hari itu berwarna merah,dia memilihnya untuk tekad yang bulat,mungkin tidak semua orang menyadari alam ketidaksadaran pribadinya,menentukan sesuatu yang sebenarnya mempermalukan diri sendiri,untuk itu, dia, seorang analis muda,tidak begitu perduli,biar bagaimanapun secara umum BMW lah yang akan dilihat bukan warnanya,tapi dia tidak pernah melupakan bagian dasar dari perkembangan kepribadian, fisik adalah yang paling menentukan. Dia sangat beruntung, gagah dan menarik secara fisik,berkulit modern,beramput peka mode..ya..seperti yang dikatakan banci bernama Nita di salon pagi tadi “oh my god, you have inscrutable hair” dan dia hanya mengangkat alisnya seperti yang dilakukan James Bond dalam Golden Eye.

Semua itu belum cukup, dia benar-benar memiliki dunia, satu kantor analis besar tempat para bos kelas atas mencurahkan penat mereka,mencari solusi atas pribadi mereka yang semakin lama semakin kehilangan masa-masa indah,terjebak dalam rutinitas pemicu stress,memancing sensasi bersekandal dengan sekertaris mereka, persaingan dengan teman bisnis,semua itu membuat mereka rindu rumah, sangat ingin kembali ke dalam tempurung yang hangat,tidur sepanjang musim dingin,bekemah bersama anak-anak mereka,tapi kapan,tangan dingin seorang analislah yang memenejemen semua itu, walaupun dia, sang analis muda itu, berpesan pada kelas profesionalnya, “Jangan pernah anda semua berfikir bisa mempengaruhi pikiran manusia,kita hanya mengingatkan mereka pada mata rantai hidup mereka yang terlupakan”, tidak ada yang lebih bisa menghargai kekutan pikiran kecuali mereka dan imbalan untuk kemampuan itu adalah uang, ya ..jaman yang semakin lama semakin giat memproduksi stress menghasilkan kekayaan melimpah bagi pakar kepribadian semacam dirinya.

Semua sudah dia dapatkan, rahasia manusia, kekayaan melimpah dan apa lagi apakah kepercayaan akan menjauhi dirinya, dia tersenyum saja, terbayang bahwa dialah kepercayaan itu sendiri, jika dia mau, dia akan menziarahi semua relik manusia suci di dunia ini atau akan berwisata pada semua situs peradaban manusia, bahkan Atlantis dibawah lautpun sangat mungkin dia datangi,apa lagi, kalau dia berambisi dia akan membuat dirinya menjadi ikon kebajikan modern, merencanakan kematian paling suci dari sudut pandang peradaban sekarang ini, dia tertawa di dalam BMW mewahnya.

Kalau di Prancis pada abad delapan belas, lelaki hidung belang mengenakan topeng ketika masuk prostitusi, sekarang laki-laki memiliki kartu anggota, ya..dan namanya akan di kenal pada setiap pesta termasuk juga mendapat layanan khusus mulai dari tempat parkir di lantai dasar sampai ruang glamour atau bahkan yang futureistik. “Selamat siang tuan Bernard..anda ingin bersantai siang ini”, dia tersenyum “ya..aku ingin bertemu dengan Laisya”,resepsionis sopan,cantik,berpakaian rapi itu berkata “Apa anda sudah ada janji dengan dia?”, Bernard membetulkan jasnya “Ya..kami sudah ada janji”, resepsionis itu tampak tenang,tetap tersenyum di depan laki-laki yang berfikir bahwa dirinya telah menjadi biasa di tempat pelacuran itu,tidak ada perlakuan khusus seperti kalau dia datang ke perusahaan tempat pasiennya bekerja dan dia memang tidak pernah sampai pada kesimpulan bahwa uang di tempat itu sangat berharga, dia mencintai Laisya, perempuan berdarah Skandinavia yang sempurna, pastilah dia keturunan Aristokratnya daerah itu, bayangan lain, dia seharum bunga Kamboja yang ditanam di gunung tempat raja-raja bangsa Timur dimakamkan, baginya istirahat paling damai adalah berbaring pada tubuh harum Leisya yang telanjang, sangat sempurna, hidup serasa mati.

Tak lama kemudian, setelah dia duduk di sofa, sang resepsionis muda tadi datang mendekat “Maaf tuan,Laisya sedang merawat diri, dia tidak bisa diganggu sekarang ini”,Bernard mengembuskan nafasnya, untuk kesekian kali dia bertemu dengan masalah tata krama tempat itu “Aku tidak menganggu, dia sudah berjanji”, resepsionis itu menenangkan dirinya “Maaf tuan, mungkin ada perubahan, dan Leisya tidak sempat memberi tahu anda, apa anda ingin ditemani yang lainnya”,Bernard tampak kecewa, dia mengeluarkan sebuah kotak dari saku jasnya “Baiklah, sampaikan saja ini pada Leisya, dan aku akan tetap menunggunya disini”, resepsionis itu mengeleng “Maaf tuan, lain kali saja anda datang lagi dan memberikan tip secara langsung padanya,saya tidak boleh melakukan ini”,Bernard benar-benar kehilangan logikanya “Baiklah, aku beri kamu tip dan aku mohon kamu sampaikan ini pada Leisya”, keadaanya menjadi sedikit gaduh dan karena itu seorang laki-laki mendatangi mereka “Ada yang bisa saya selesaikan tuan?”,Bernard mengadu pada laki-laki itu dan kemudian laki-laki itu berkata “Ya, memang sekarang ini Leisya sedang ada perawatan diri, maaf, kami memang selalu menyiapkan segalanya dengan baik, itu sudah menjadi aturan kami, anda bisa memilih yang lainnya, kami ada banyak perempuan yang memiliki kecantikan sama dengan dia” lalu laki-laki itu memberi kode pada resepsionis muda tadi, tak lama kemudian dia mengambil sesuatu dan datang lagi dengan membawa buku besar “Ini tuan silahkan anda tentukan” Bernard menolaknya “Aku hanya butuh lima menit untuk bertemu dengan dia”, resepsionis dan laki-laki tadi saling berpandangan, “lima menit” kata Bernard dengan wajah meyakinkan.

Melihat wajah itu laki-laki tadi memberi kode dengan tangannya untuk tenang, dia mengeluarkan telpon gengamnya “Nona Leisya, sepertinya tuan ini memaksa, dia minta lima menit waktu anda”, semua diam dan dan laki-laki tadi berkata “Baiklah nona,saya akan katakan padanya”. Benard tampak lega dan laki-laki tadi tersenyum “Dia akan menemuai ada di bar, silahkan tunggu disana”.

Tempat itu tidak berbeda dengan hotel berbintang, Bernard berjalan melintasi lobby menuju Bar, disana banyak orang menghabiskan waktu dengan minum, pada siang hari sekalipun,lalu Bernard duduk di kursi meja bar, memesan bir dingin dalam botol kecil,hanya untuk menunggu, tidak berselang lama, setelah botol bir berdiri didepannya, seorang perempuan datang menghampiri “Anda Bernard?”, Bernard mengangguk “Leisya menunggu anda di kamar,dia tidak mungkin datang kesini,terlalu ramai”. Bernard tersenyum, sangat sempurna, seperti apa yang dia bayangkan sebelumnya, di dalam kamar, Leisya berdandan dan dia berbicara dengan hatinya yang sudah bulat tekad,akan menjadi adegan paling dramatis dalam hidupnya.

Sepanjang berjalan dilorong dengan pintu dikanan kirinya, Bernard berbicara dalam hati, apa yang akan kamu lakukan Leisya, kalung berlian, apa kamu akan menolaknya, sepuluh tahun lagi kamu melacur, kamu tidak akan mendapatkannya,sekarang, aku datang dengan kekayaan yang sudah pasti kamu idamkan selama hidupmu,ya..aku akan menjadi seseorang yang siap mencukupi kebutuhan hidupmu sampai mati,hanya aku..Bernard..analis terkaya dikota ini..penguasa kegilaan manusia karena perubahan jaman. Bayangannya semakin lama semakin surut,Bernard tak lagi bicara dalam hatinya, gelak tawa dan jeritan genit terdengar dikanan dan kiri lorong itu, seperti pada saat pertama datang kesana, pada malam perayaan insentif terbesar selama hidupnya, dia dihadiahi fasilitas retal mobil mewah gratis sepanjang hidup“Saya sembuh,anda malaikat bagi saya” dan dia memilih,Ferrari, si kuda hitam yang lincah itu atau Mercedes yang elegan,atau BMW yang popular,atau bahkan Role Royce, putri besi yang klasik dan berkasata, tapi yang terpenting pada malam itu adalah popularitas dirinya,dia di dalam daftar orang-orang kelas elite kota itu. Dia akan selalu tersenyum, mungkin kenangan paling penting bagi kedewasaannya dan dia sangat ingat, waktu itu, Leisya yang cantik dan tidak pernah dia kenal sebelumnya, bertugas membawa kartu Free Rent dengan cap merah For Class Collections and For a Lifetime, selamanya dia juga tidak akan melupakan bagaimana cara mengambil kartu itu. Penuh ketegangan, seperti saat pintu dibuka dan perempuan telanjang berkata “selamat siang,tuan Bernard”.

Leisya, tersenyum seperlunya, rambut hitamnya digelung sembarangan, kulitnya berlumuran minyak pijat,dia melayang menuju piyama sutranya, “Ada apa dengan lima menit tuan Bernard?”, Leisya tampak tidak mengoda, semacam ada kejenuhan yang diartikan oleh Bernard sebagai “Bawalah aku pulang,tempatkan aku diatas paraduanmu” dan Bernard berbesar hati untuk melakukannya,kapanpun.

”Leisya,kamu tampak jenuh hari ini,apa kamu enggan menghadiri pesta”.Leisya tersenyum “Tidak,aku baik-baik saja,katakan maksudmu karena lima menit itu waktu yang sangat singkat tuan”, Bernard mengembuskan nafasnya lalu dia mengeluarkan kotak dari dalam saku jas “Aku ingin memberimu hadiah,..sebagai bentuk kekaguman dan mungkin sebagai tawaran sebuah perubahan”, Bernard membuka kotak itu,permata berkilauan karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela, “Indah sekali” kata Leisya”..tapi aku tidak bisa menerima itu”, Bernard tidak percaya “Kenapa denganmu Leisya, aku memberimu hadiah,kamu tidak harus membelinya”, Leisya tidak ada ekspresi “Ada banyak laki-laki semacam anda ini tuan Bernard, kamu beri ini, kamu beri itu,tapi apakah anda pernah berfikir bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dijerat dengan semua itu”,Bernard menelan ludah dia berkata”Sudahlah jangan terlalu munafik,aku sejak tadi mendapat masalah ditempat ini,bertemu aturan-aturan yang tidak masuk akal, kalian hanya pelacur,kenapa harus memiliki aturan normatif semacam itu,kalian tidak akan didengar ketika berbicara tentang filosofi atau hakekat atau bahkan untuk segala hal, kalian tidak pernah benar secara fungsional”, Leisya tersenyum “Anda benar tuan Bernard,kami memang tidak ada artinya,kami hanya bagian dari apa yang kalian kenal sebagai nafsu birahi, apakah anda kira kami tidak berbaik hati melayani nafsu birahi anda hanya dengan diberi imbalan uang, bagi kami uang itu tidak ada harganya tuan, kami sama dengan anda, sekarang, di depan saya ini, anda adalah pasien dari seorang pelacur”. Bernard diam, memandangi berlian yang berkilauan ditanganya, lalu Leisya kembali berkata “Anda tidak akan pernah percaya, hampir semua laki-laki yang datang ke tempat ini mengalami masalah, termasuk anda. Tiga menit lagi tuan, jika anda memang menganggap kami tidak ada artinya, anda pasti tidak akan kesini. Cukup, lebih baik anda datang menemuai saya secara profesi, karena pribadi saya tidak dijual sebagai pelacur”. Bernard tak juga beranjak,dia diam masih memandangi kalung berliannya.

Tak lama kemudian pintu diketuk dan Leisya berkata “Waktu anda tuan Bernard” dan Bernard berdiri, “Kamu benar Leisya, mungkin aku juga mengalami stress yang sama dengan kebanyakan orang disini, aku pasien pelacur…tapi apakah tidak lebih baik jika aku menjadikan kamu istri dan kita hidup seperti layaknya orang,aku memiliki semuanya dan kita bisa memiliki semua itu bersama-sama”, Leisya mengeleng “Tuan Bernard..tidak semuanya…,silahkan keluar dan lain kali jangan temui saya pada jam perawatan semacam ini”.

Bernard berjalan menyusuri kembali lorong penuh kenangan,mendengar suara yang sama, setiap langkah dan setiap detik yang dia rasakan adalah tentang rutinitas yang menunggunya diluar tempat itu. Dia akan kebali ke kantor, betemu dengan beberapa pakar pada kelas profesinya, berbicara tentang kasus-kasus para psyco, berbicara tentang hipnoterapi,dan dia mulai sadar beberapa aturan baku pada jam analitik yang dia terapakan selama ini, pasien tidak boleh membawa barang yang terbuat dari logam pada jam analitik, cincin kawin harus dilepas, sepatu harus dilepas ketika berbaring di ranjang, pasien tidak boleh terlalu mabuk,mereka harus patuh pada ketentuan analis dan analis tidak boleh mendominasi keadaan, mereka hanya pendengar, pasien tidak bisa datang pada setiap waktu, analis tidak boleh memiliki ikatan dengan pasien selama proses terapi berlangsung. Bernard tersenyum“Leisya” dan dia terus berjalan menyusuri trotoar, hilang diantara kerumunan manusia.