Siang harinya aku melihat tubuh pengusaha itu di ruang otopsi, setelah sekian lama, ternyata tidak ada orang yang merasa memiliki dirinya, sangat kaya atau biasa-biasa saja sudah pasti mayat itu akan dikubur tanpa nama pada nisannya nanti.
Hari tidak berhenti, aku pulang dan laki-laki dalam sketsa berita pagi itu duduk di ruang tengah rumahku, kabel telpon sudah dia putus. Seperti sebuah kunjungan kerabat, seorang perempuan muncul dari dapur “selamat siang tuan” sapa perempuan itu “anda juga mau kopi?...atau teh mungkin ”, dia tersenyum, seperti kebanyakan perempuan yang bahagia sekarang ini. Lalu dia mendekat “sepertinya kita perlu belanja, sayang”, dia gerayangi kantong celanaku lalu mengumpat “buruh sialan,sudah tahu hidup susah masih bekerja dengan upah harian”, dia tunjukan uang jarahannya di depan mataku “ini..kamu cuma punya uang segini”. Aku tetap diam sampai dia mendorongku untuk duduk dimeja yang sama dengan laki-laki itu.
“Pacarku bertanya pada tukang koran diujung gang”kata laki-laki itu, “dan kamu pelanggan A Day In The Life, selamat, anda pembeli pertama hari ini” dia meyeringai,mengerikan, dan melanjutakan lagi “kamu tahu, judul koran jelek ini diambil dari lagu milik beatles, semunya tentang orang yang jauh dari keberuntungan” dia tersenyum, “aku tidak harus membuktikan itu,anda tahu maksudku”.
Perempuan tadi keluar dari kamar mandi “ayo sayang, berikan kunci mobilmu,aku akan belanja hari ini” mengusap pipiku dengan telapak tangannya yang dingin,dan sekali lagi mengerayangi kantong celanaku,“Jangan terlalu menggoda, Laila”, laki-laki itu memandangnya serius, perempuan bernama Laila itu berbisik di telingaku ”aku suka laki-laki garang” dan dia melangkah keluar sambil tertawa riang.
“Kamu merokok?” laki-laki tadi menghilangkan langkah perempuannya, dia menaruh pistol diatas meja, mengambil sebungkus dari jaket dan melemparnya kepadaku “Ambilah, agar kamu lebih santai”. Aku mengikuti apa yang dia katakan “Benar-benar pekerja keras” katanya, “Kamu perokok berat ternyata, aku dulu seperti kamu, jika usiamu lebih muda dari aku, persis seperti itulah aku pada awalnya”, dia juga merokok, lalu melanjutkan”Bekerja siang dan malam, berganti-ganti pekerjaan, sangat bangga, lelah itu menyenangkan”, dia tertawa, ”…dan kamu akan sampai diamana hidupmu sangat membosankan, begitu kamu mencintai perempuan, begitu otakmu akan menjadi comberan“, dia tertawa, “Apa?..kamu ingin berkata sesuatu?..katakan!!”, aku telan ludah sebanyak-banyaknya dan aku katakan “Aku juga mencintai seorang perempuan,tapi aku tidak merasa otakku…”, tiba-tiba dia menyipitkan matanya dan aku menarik kata-kataku “Maaf, saya kira saya boleh berkata demikian”. Dia tersenyum “Laki-laki yang jujur, tapi tolol, aku senang mendengarnya, katakan selebihnya…”, aku tidak mau melanjutkan, mengeleng dan terus mengeleng.
Dia kecewa “Baiklah, aku mungkin terlalu menganggap semua orang sama, tapi kamu akan tahu katika kamu menjalani hidupmu
Hari mulai gelap, kami kelaparan menunggu Laila, laki-laki itu memakan keju tanpa roti dari lemari makan,membagi padaku sedikit sebagai bentuk keperdulian yang aneh, sore sudah benar-benar datang, dia melarangku untuk menyalakan lampu, lebih dari sekedar keamanan tapi termasuk untuk menutupi wajahnya yang gelisah karena Laila tak kunjung muncul. “Bangsat perempuan itu,kemana saja dia” berkali-kali mengumpat, lalu mulai mengacau, mendekati aku dan menyodokkan pelipis pistolnya dikeningku “Kalau ada apa-apa dengan dia, bersiaplah mampus anak muda…apapun yang terjadi..akau tidak mau dia celaka”. Laki-laki itu seperti bersunguh-sungguh dengan ucapannya, dia dengan perempuan bernama Laila tadi, aku bertanya, tapi dia sangat liar, jelas sesat karena alasan untuk menyalahkan yang lainnya.
Di dalam ruangan yang gelap itu, nyamuk mulai beraksi ditelinga, dia merancu “Binatang sialan, rumahmu benar-benar kotor”, aku tetap diam,tapi tidak bisa bertahan lama, “Biasanya mereka pergi jika lampu dinyalakan”, dia membantah “Omong kosong” dan aku terus mencoba ”Aku pernah melihatnya di saluran televisi,mereka menggunakan sensor panas dan..m..mm..mungkin Laila juga tidak ragu jika lampu dinyalakan” dia berdiri “Iya kamu benar, Laila bisa ragu jika melihat rumah ini gelap, dimana tombol lampunya?”. Aku menyuruhnya berjalan mendekati almari disalah satu sisi, “Dibagian sebelah kanan“ kataku.
Tak lama kemudian ruangan menjadi terang, aku melihat wajahnya yang berminyak,rambutnya yang kusut dan dia tampak lebih kurus dari ketika aku melihatnya di balik meja tadi,aku coba mengukur seberapa kuat tubuh itu, tapi tetap dia memiliki keliaran dan profesionalisme seorang pembunuh, tidak mungkin, kataku dalam hati.
Tak lama kemudian dia memangil “Hey…milik siapa semua piringan hitam ini” aku tidak percaya, dia belum melihat barang itu, apakah begitu datang dia hanya duduk dan bergerak antara dapur dan ruang tengah saja, “Milikku..aku mengoleksi barang itu”, dia tersenyum “Heh..orang miskin yang aneh” dan dia berubah “…atau kamu sebenarnya tidak miskin” menatapku tajam dan beralih pada isi almari itu,”Kamu mengoleksi buku-buku juga... kita lihat, apa kamu bukan orang bisa”, aku sedikit susah berfikir, dia orang brutal yang melakukan penilaian pada seseorang,tak lama dia bersuara lagi ”Ya...aku dulu tidak punya buku-buku semacam ini, hidupku habis untuk bersenang-senang, tapi siapa yang bisa mengerti kecuali hanya pistol ini, dan peluru, ya..peluru yang kemudian aku berikan pada semua orang”, dia kembali melirik kerahku, tersenyum dengan sadisnya “Sekarang jelas kamu tidak sama dengan aku…kamu tidak berarti lagi bagiku…”aku merasakan titik akhir dan bertanya, apakah aku selama beberapa waktu yang lalu cukup berarti baginya, kenapa sedemikian singkat, bisakah ada sesuatu yang dimengeti.
Sebentar kemudian aku menyerah pada alunan gitar A Day In The Life “Ah..ini lagumu anak muda” katanya, aku duduk disofa, “Kamu tahu yang paling menarik dari lagu ini” dia tetawa “kebodohan semacam kamu”. Dia bernyayi tentang inspirasi, dan jujur “Seharusnya aku mengembangkan lagu ini menjadi kekacauan yang metodis, berpesan melaui kematian orang-orang tolol semacam kamu” dia menendang wajahku, “Aku butuh pisau” dia berjalan santai menuju dapur, terdengar suara tembakan beberapa kali, aku berlari menghampiri, aku raih saklar lampu, Laila menodongkan pistol kearahku “mundur !!”. Sebentar aku tersentak, lalu berlari keluar menjauhi rumah, meminta pertolongan tetangga untuk menelpon polisi. Laila dan lelaki itu hilang, tak ada darah di ruang dapur,tak ada bekas peluru ditemboknya. A Day In The Life mengalun untuk kedua kalinya, korannya tergeletak diatas meja, aku diam di atas sofa memandangi pistol ditanganku seorang diri……