“Ini tentang kreatifitas” katanya padaku, lalu dia menaruh rokoknya diatas asbak, “Luar biasa”, setelah dia berkata seperti itu aku serasa terbang keatas awan, hilang semua yang aku khawatirkan, ketika itu aku menyodorkan satu tulisan tentang seorang teman “yang mengajari kamu tentang cinta” kata Nara, dan aku menaruhnya di meja redaksi, “ini bukan artikel” kata sang redaktur “ini cerita fiksi” katanya kemudian.
Di luar udara sangat panas dan kopi yang aku minum pada jam sepuluh pagi tidak banyak berarti. Terkenang ibuku yang selalu menyesal karena aku tak pernah berburu foto untuk mendapatkan uang “Kapan kamu akan sukses kalau setiap hari bangun siang semacam ini”katanya, dan bapakku yang sangat disiplin, dia lebih berkata “kenapa kamu mengambil masa berproses selama ini“, sambil mengelus kepalaku dengan sedihnya. ”apa aku sudah tua?“ kataku untuk sentuhan tangan diatas kepalaku itu, “belum,tapi kamu kehilangan banyak semangat “ kata
Dua hari kemudian aku datang disebuah ruangan, hujan turun membasahi segala yang terbuka diluar sana “karena hujan kamu datang jam sebelas”dia menaruh tumpukan draf diatas meja, “aku hanya punya waktu setengah jam dan aku harus segera makan siang” dia seorang yang benar-benar pandai dengan waktu, setengah jam mrnjadi waktu yang sangat efisien, aku bangga, sakit hati dan lega, dia tersenyum meninggalkan ruangan, diikuti sekertarisnya yang cantik, mengenakan celana warna putih, dengan setelan baju garis-garis,melirikku dan memberikan alamat dan nomor telpon pribadinya, seolah dia terselip diantara waktu di tempat itu. “Apa kamu berhasil?”tanya Nara dan sekarang garis hitam di bawah matanya membuat aku tak berselera untuk mengerayangi dia lagi, “perempuan pemabuk” kata dia sendiri dalam tari-tarian anehnya,”Setubuhi aku sayang” katanya merayu dan aku tersenyum, tertidur untuk bangun lebih baik dari biasanya.
Malam berikutnya sekertaris itu menarikku, menyentuh dengan kuatnya hingga aku merasa ngilu, lalu dia seperti angin, berhembus diselilingku, tertawa menghancurkan “kapan lagi kamu kesini?”katanya, dan
Hari berikutnya aku tak pergi, siang tidur sepanjang hari, rambutku berubah kusut, aku mengalami tekanan darah rendah yang parah, bau keringat dimana-mana, Nara mabuk dan overdosis di lantai, aku berdoa agar dia tak bertemu dengan aku di alam kamatian nanti, “sebuah bencana” kata ibuku,“tinggalkan dia” kata bapakku sambil mengusap kepalaku dengan sedihnya.
Sekertaris itu tak lagi mengenali aku, dia tampak puas bercumbu, tentu saja dengan dia yang sangat pandai dengan waktu, aku menunggu di sofa selama jam makan siang dan mereka di depanku, berbatas tembok kayu, otakku sudah rusak,dia katakan “kreatifitasmu pantas dihargai lebih, kami akan mencetaknya dan kita tour promo setelah ini”.
Aku tersenyum dan puluhan polisi datang ke rumah, mereka memeriksa bangkai Nara yang membusuk di lantai, aku ditahan setelah ayah Nara memukul wajahku berkali-kali, ada darah, banyak darah, aku berlumuran darah sambil berfikir tentang perempuan pecandu pinggir jalan, berhubungan dengan sembarang lelaki dan sama sekali tak mengerti kesehatan, mengambilnya, mengajari dia cara hidup yang benar, tapi minuman dan obat-obatan tak pernah membuatnya bosan, dia menciptakan kematiannya sendiri. Aku tak bisa melihat luka-lukaku sampai polisi medik berkata “ada beberapa potongan kayu kecil di dalam luka ini”, aku mengangguk dan merintih saat tangan kasarnya menarik benang di luka itu.
Kursi pengadilan,bersih tanpa kutu, mahal harganya, aku dituntut peculikan dan pembunuhan, harus dipenjara dan harus membayar. Diluar
Rumah dan segala kemewahan adalah hasil dari fiksi yang beredar, tapi ibuku tak mau menemui aku, segalanya menjadi hambar hingga aku kembali membaca tentang dia yang mengajari aku cinta, berkorban dan berjuang, memberikan yang terbaik, berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan, aku menulis fiksi-fiksi, bukan yang terbaik, tapi semua orang tahu, namaku sudah jadi yang terbaik.
Hidup memang pendek…jalan menuju kantor penerbitan pada siang yang panas, aku gagal menyebaranginya …sebilah pisau mengujam…aku mencium nafasnya, ayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar