Jam Analitik

Mirat rebah diatas kasur, dibelakangnya terdengar suara pensil mengores kertas linen kualitas biasa, “aku melihat banyak kupu-kupu, dan yang paling besar berwarna hitam, dia terbang paling rendah, paling dekat dengan bunga-bunga, kupu-kupu itu cantik, sangat cantik, warnanya hitam” dia diam, dibelakangnya, tak ada suara, lalu dia melanjutkan “apakah hitam itu jelek?” dia kembali diam “tapi aku pernah baca tentang kualitas ras, o…...aku sangat marah ketika membaca tentang semua itu, kulit hitam adalah kaum budak, dijual belikan seperti binatang” dia mengeluh, ”ya Tuhan…padahal kupu-kupu hitam itu teramat cantik”, dibelakangnya terdengar suara gumam. Mirat menutup matanya dalam-dalam “dia tidak lebih buruk dari” dia kembali diam “aku merasakan itu, dan aku….” kali itu dia diam cukup lama “apakah anda yakin orang berkulit hitam itu berpikiran pendek..” ada suara dibelakangnya “maksud anda?”, Mirat membuka matanya “mereka memperkaya diri dengan berbuat kejahatan, menjual obat-obatan, dan bahkan membajak dan menyelundupkan, di Inggris, anda tahu?..mereka kebanyakan imigran gelap…penyusup yang dianggap maling”, suara dibelakangnya kembali terdengar “ya..saya tahu itu, bagaimana dengan kupu-kupu hitam tadi, anda tidak ingin melanjutkannya?”

Mirat menutup lagi matanya “tapi kupu-kupu itu tetap yang terbesar”, pensil mengores kertas lalu terdengar suara“seolah ingin mengambil semua perhatian, sangat percaya bahwa dia yang tercantik, satu-satunya..”Mirat diam lalu bertanya “apakah anda percaya istilah untuk membesarkan hati, bahwa sebenarnya penggunanya tidak tega untuk mengatakan kotor sekali atau jelek sekali“, suara dibelakangnya merespon “ya, mungkin saja, itu baik untuk bersosial”, Mirat mengeluh “kenapa bisa semacam itu?”, dibelakngnya melanjutkan “itu nilai percakapan, bahwa sebenarnya kita juga harus menjaga rasa dalam kalimat, kejujuran selalu harus dipikirkan, kita sebenarnya sudah sangat keras dan otoriter ketika mengunakan bahasa, lawan bicara_berada dalam jebakan kesombongan dirinya”, Mirat membuka mata “Apakah kita boleh marah ketika sampai pada kejujurannya?”, suara nafas dibelakangnya “marah atau menerima adalah sama, dia sudah menjebak pada dua sisi” Mirat memotong “lalu apa yang harus dilakukan?”, dibelakangnya berkata “tidak ada, karena pembicara sudah punya kesimpulan atas diri kita, apakah kupu-kupu hitam itu eksotis menurut anda” Mirat diam cukup lama “aku tidak tahu, bagaimana menurut anda?”,suara dibelakangnya berkata “ saya belum menyimpulkannya?” Mirat mengeleng, lalu berkata ”apakah kebesaran kupu itu bisa merubah kesimpulan?”,suara dibelangnya menyambut “anda ingin itu?, saya kira dia mengetahui kupu-kupu itu tidak menarik hatinya, tapi dia merasa pantas bersosial, apakah anda ingin dia mengatakan, kupu hitam itu sangat jelek, berwarna hitam seperti bangsa budak?”.

***

Lima minggu sebelum hari itu, orang dibelakang mirat itu memperkenalkan diri sebagai Nara, “saya teman Mirat” dan seorang laki-laki waktu itu menyatakan dirinya sebagai Anwar “saya juga temannya Mirat”. Mereka bertemu disebuah galleri seni dia pinggir Sunset Road, di seputaran Kuta Gallery yang termasyur itu, satu patung timor dari batu andesit menatap mereka yang duduk di bangku tonggak kayu. Anwar bertanya “Lalu bagaimana perkembangannya?”, Nara mengambil rokok “belum, dia masih harus melewati terapi dalam beberapa tahap”, Anwar tersenyum “Apa dia akan sembuh?”, Nara menyalakan rokoknya “pada dasaranya bukan masalah sembuh atau tidak, tapi menolong dia untuk menjadi normal, hanya mengenang masalah-masalah yang dia lupakan pada masa kecilnya”, Anwar merokok, menawari minuman pada Nara dan kemudian dia melanjutkan “perempuan dari kalangan menengah memang penuh masalah, aku terkadang berfikir itu keseimbangan untuk kehidupan mereka yang mewah, mental yang cacat dengan tampilan yang mewah_sama saja”, Nara mengeleng “tidak semuanya seperti itu, ada banyak juga yang mendapat kebebasan cukup, memiliki pengalaman yang cukup dan bertemu dengan kegagalan yang mendewasakan” Anwar memandangi Nara “apakah kegegalan itu penting?”, Nara tertawa “tentu saja, itu bukti bahwa hidup kita berjalan normal, sama seperti dalam permainan, perubahan rasa yang menyenangkan” Anwar sejenak berfikir lalu dia berkata “apakah itu berpengaruh”, Nara tertawa “bisa saja, tapi tidak jika kita tidak membahas itu, aku delapan jam sehari untuk bertemu dengan orang-orang yang menderita, kenapa tidak kamu tunjukan saja barang seni mana yang pantas untukku”, Anwar tersenyum “ya, tapi aku baru lima kali bertemu dengan cerita semacam itu”.

Mereka beralih pada banyak pembicaraan menjelang matahari tenggelam, dan Anwar mengajak Nara melihat-lihat ruang pameran “ruangan ini akan bagus pada malam hari, kamu bisa melihat patung-patung kuno di bawah lampu artifisial, dan satu lagi” lalu Anwar berjalan ke sebuah ruangan kecil di sudut ruangan itu, sebentar kemudian mengalun sebuah symphoni dengan resonansi sempurna diruangan itu, Anwar keluar dengan tersenyum, lalu Nara menyambutnya dengan “Revolutionary” dan Anwar “Frederic Chopin, untuk perubahan”, Nara tersenyum “perubahan yang untukmu sebenarnya terjadi pada yang lainnya?”, Anwar tertawa meremehkan “ya... merasa dewasa dengan sempurna, apa mereka masih seperti itu ketika memenuhi ruang paraktekmu” Nara mengangkat bahunya “hampir semuanya”, Anwar tampak kecewa “ah..pasti meyebalkan sekali, semacam kambing mengembik saja mereka itu, seleranya cukup rumput rendah saja”.

Anwar dan Nara melanjutkan perjalanan melewati satu ikon budaya ke ikon budaya yang lainnya, patung-patung seni yang mewakii sosio kultur manusia, dari masa lalu yang jujur berubah menjadi masa kini yang bernilai mahal, unik,angker,aneh,membingungkan, istilah yang sebenarnya menunjukan ketikmampuan untuk bertemu lagi dengan kejujuran itu sendiri. Anwar berkata “keanehan manusia dalam moralitas, merendahkan nilai masa lalu dan menyuguhkan jalan baru yang akan diendahkan juga dimasa depan”. Nara mengerutkan dahinya “apa ini masih tentang kambing ?”

***

Jam berikutnya “Pernahkan anda melihat orang menghadirikan orang lain dalam pembicaraan” begitu Mirat berkata, “dan itu berlangsung terus menerus menjadi sesuatu yang sangat romantis”, Nara menyambutnya “kasihan sekali, bahkan manusia semacam itu tidak mampu menghadirkan hidupnya sendiri, siapa dia sebenarnya, sampah?” dan Mirat berkata “apa itu kelainan”, Nara tertawa “apa anda mengenali semua itu?”dan Nara dengan sengaja menyadarkan Mirat yang sering menggunakannya untuk mendekatkan hubungan mereka.

Mirat berusaha, dalam analogi untuk mendewikan dirinya, tapi Nara melihat kekurangan yang parah pada menguasaan seni percakapan, Mirat yang jelek, sepenuhnya sampah, tidak ada artinya bagi perkembangan berikutnya dan Nara berkata “sebenarnya kupu besar itu ingin menarik perhatian siapa, bunga-bunga? atau kupu-kupu yang lainnya?, atau kedua-duanya?, Mirat berfikir “aku tidak tahu”,Mirat diam dalam keragu-raguan, Nara menulis “kedua-duanya”, lalu dia berkata “apakah anda punya kenangan lain tentang keluarga anda”, Mirat menjawab “apa itu penting?”, Nara melanjutkan “Bagaimana jika kupu besar itu ternyata sangat kurang perhatian”, Mirat berubah marah “anda mengatakan saya kurang perhatian?”, Nara menghela nafas “tidak, saya mengatakan tentang kupu itu”, Mirat diam, kemudian dia berkata “dia cantik dari semua perempuan, maksudku kupu-kupu yang lainnya, tapi dia selalu disalahkan, dia bahkan lebih cerdas dari kupu yang lainnya, tapi dia tidak memiliki hak untuk memilih, pada semua hal aku memang tidak boleh memilih”, Nara membuat garis lurus diatas kertas linennya “bagus, anda baru saja melakukan itu” Mirat berfikir dan dia berkata “maksudku kupu-kupu itu” Nara serius “ya, saya tahu” dan Mirat melanjutkan “dia harus menyenangkan hati semuanya, termasuk orang tuaku,dia tidak mungkin mengecewakan mereka”, Nara mengela nafas lagi, perempuan itu tampak sangat tersiksa, padahal dia berusaha sempurna dan Nara berkata “apakah anda yakin semua itu tidak terlalu aneh”, Mirat hanya diam, Nara menyerang ”apakah mereka memang menganjurkan untuk tampil seperti itu?”, Mirat mengeleng dan Nara berkata “saya kira semua orang akan sampai pada titik dimana kupu besar itu terlihat sedang melakukan sesuatu, dia berusaha lepas dari kebiasaan, dia dalam sebuah keterasingan yang dia perlukan, anda pernah dengar cerita seorang anak dengan hati orang tuanya, menjadi mempesona atau sangat kurang adalah sama, anak itu mencari pertentangan dengan orang tuanya, kupu-kupu anda itu dengan orang tua anda sendiri”.

***

Setelah jam analitik hari itu selesai, Nara menemui Anwar, laki-laki itu duduk malas di balkon kamarnya, “apa yang kamu kerjakan sehari ini, duduk?” Nara memandanginya dengan sengit “Ya..kenapa?, bagaimana perkembangan pasienmu?”, Nara berwajah kecewa “kamu tahu, dia mencintaimu”, Anwar tertawa “ya..mencintai semacam anak bayi yang baru mengenali pamannya,berlari dan mencari perhatian untuk kemudian menagis jika didekati?”,Nara tidak tersenyum, “bagaimana jika dia mencintaimu?”, Anwar tertawa “tidak mungkin, kamu terbalik, aku yang seharusnya mencintai dia, bukankah cerita sintingnya semacam itu”. Nara masih kecewa “dia memerlukan kamu”, Anwar menatap Nara “kamu tahu Nara, dia bukan kupu-kupu seperti apa yang dia bayangkan, dia singa betina yang kejam, buas dan liar, dia tidak pandang memakan sesamanya, aku juga tidak yakin kamu bisa menyembuhkannya”, Nara menganguk malas “ya, aku merasakan naluri liarnya, dia memang tidak tumbuh dengan tata nilai yang sama dengan kita, tidak punya hati, setelah dewasa dia harus membunuh induknya sendiri”, Anwar menghela nafas “berarti sia-sia”, Nara duduk disamping Anwar “dia tidak mungkin berani, dia jago bersembunyi, pada banyak hal, mungkin dia akan membunuh dirinya sendiri atau menyiksa hati semua orang yang melayaninya”, Anwar memeluk Nara “kamu menutup kasusnya, Nara?”, Nara tersenyum “ya..aku tidak ingin dia menyiksamu”, Anwar tertawa “kamu baik sekali”, Nara balas memeluk Anwar erat-erat, dan Anwar berkata “kamu sedang jatuh cinta Nara?”, Nara memandangi wajah Anwar “apa aku tampak sedang jatuh cinta?”.

***

Mirat mengahiri jam analitik hari itu, dia keluar dengan membawa pesan bahwa dia harus melanjutkan proses itu minggu depan, tapi dia juga berfikir bagaimana jika dia tidak melanjutkannya, mencari Anwar dan menikah dengannya.

Tidak ada komentar: